Tunjukkan Federal-mu Jogjakarta #3

Pengguna Federal atau biasa disebut Federalist Jogjakarta mengadakan guyub rukun sekaligus gowes bareng yang ke-3 kalinya. Acara ini bukan dari sebuah komunitas/klub sepeda melainkan hanya media  berkumpul penghobi sepeda lawas asli Indonesia ini untuk bertukar informasi, pengetahuan dan komponen sepeda tanpa adanya struktur keorganisasian. Meski demikian, Acara ini bebas diikuti oleh siapa saja walaupun bukan pengguna Federal. Kami hanya ingin mengenalkan bahwa Federal belum habis dan tak perlu minder dengan sepeda-sepeda keluaran baru bahkan ber banderol mahal. Acara tersebut dilaksanakan pada:

Waktu: Minggu ,24 Juli 2011

Pukul:  05.30 – Selesai

Tempat: Perempatan Tugu Jogja

Rute gowes: Tugu Jogja – Menyusuri sepanjang selokan Mataram

Acara tidak dipungut biaya alias 100% gratis. selain itu, acara tidak memiliki EO atau kepanitiaan tapi ada koordinator untuk jalannya acara. Jadi, mohon persiapkan kebutuhan dan perlengkapan sendiri meskipun nanti beberapa dari kami membawa perlengkapan untuk jaga-jaga jika ada yang butuh bantuan.

CP: 083869082435 (Bagas)

FB: http://www.facebook.com/event.php?eid=135643759850727

Sepeda Terringan Di Dunia

Sepeda ini di buat oleh Günter Mai (Jerman) yang merupakan hasil riset dan pengembangan proyek sepeda ringannya selama beberapa tahun. Sepeda ini bernama “Spin Bike”. Bobot keseluruhan sepeda ini sangat menakjubkan, yaitu kurang dari 3 Kg! yaitu tepatnya 2967.7 g. Bobot ini hampir sama dengan bobot tas ransel yang saya bawa sehari-hari berisi laptop, charger, cooler, buku dan perlengkapan lain. Bisa dibilang, saya bisa menggendong sepeda ini di atas sepeda saya. Hampir semua bagian sepeda ini dibuat custom dan \menggunakan bahan Fiber Carbon yang sudah banyak menjadi pilihan produsen sepeda karena bobot yang ringan dan kuat. Meski sangat ringan, sepeda ini tidak diperuntukkan balap sepeda karena dalam balap sepeda, tidak hanya sepeda ringan saja yang dibutuhkan, melainkan kekakuan frame, tingkat kestabilan, aerodinamika dan komponen lain masih terbuat dari bahan metal, hal inilah kadang harus ada kesesuaian antara bobot dengan performa yang berakibat bobot menjadi tidak sangat ringan.
Sepeda ini diakui terringan di dunia ketika tampil di acara Interbike 2010 Las Vegas, America.

Spesifikasi Spin Bike:

Rahmen / Frame: SPIN custom made 642,5 g
Gabel / Fork: THM Scapula SP Tuned custom made 185,9 g
Kurbelsatz / Crankset: THM Clavicula Compact custom made 298,0 g
Lenker / Handlebar: Schmolke-Carbon TLO custom made 111,3 g
Sattel/Stütze / Saddle/Seatpost: Schmolke-Carbon TLO custom made / Speedneedle 75,1 g
Laufräder / Wheels: Lew Pro VT-1 custom Boron 709,6 g
Reifen / Tires: Tufo 200,1 g
Schnellspanner / Quick releases: Tune Skyline 16,3 g
Vorbau / Stem: Nordischer Rahmenbau CfK-stem 53,8 g
Steuersatz / Headset: Integrated 23,4 g
Ahead-Kappe / Ahead-Cap: Carbon 0,2 g
Lenkerband / Bar tape: Foam rubber 5,0 g
Bremshebel / Brake levers: Record modified 86,5 g
Bremsen / Brakes: AX-Lightness Orion SL modified, BTP brake shoes 71,6 g
Schalthebel / Shifters: BTP Carbon 9,0 g
Umwerfer / Front derailleur: Record / BTP 28,5 g
Schaltwerk / Rear derailleur: Huret / BTP / Stefan Schäufle 40,7 g
Kettenblätter / Chainrings: Patrick Gunsch 50 / Fibre-Lyte 36 53,8 g
Kettenblattschrauben / Chainring Bolts: Alu 8,2 g
Kassette / Sprockets: Alu modified, 6sp 11-16 34,7 g
Kassettenspacer / Cassette Spacer: Teflon 3,8 g
Abschlussring / Cassette lockring: Alu modified 3,4 g
Kette / Chain: KMC X-10 SL 214,8 g
Pedale / Pedals: Aerolite Titan modified 54,8 g
Sattelklemmschelle / Seatpost Collar: BTP Carbon 2,9 g
Züge & Hüllen / Cables & housing: Powercordz & pneumatic hose 15,6 g
Tretlagerkabelführung / BB Cable Guide: Record 2,2 g
Verschiedenes / Miscellaneous: Tire glue, air, grease 16,0 g

Read the rest of this entry »

Bersepeda Bagai Bertahan Hidup

BICYCLE CLOWN BRIGADE "TICKETS" POLICE CAR(S) ILLEGALLY PARKED IN THE 2nd AVENUE BIKE LANE (ppolnews.com)

127 Hours, Cast Away, Resident Evil: After life, The Road merupakan jajaran film ber-genre survival yang menarik ditonton. Entah itu based on true strory atau fiksi. Film-film itu seakan mengajarkan pada kita bagaimana cara bertahan hidup ketika terdesak suatu kondisi. Ya, seperti halnya ketika kita bersepeda sehari-hari. Kita harus bertahan hidup dari ‘pemangsa’ jalanan. Mungkin agak lebay jika saya sebut pemangsa, tapi memang mirip. Di jalanan seolah kita membuat sebuah rantai makanan yaitu: pejalan kaki dan pesepeda dimangsa pengendara motor, pengendara motor dimangsa pengendara mobil, pengendara mobil dimangsa kendaraan yang lebih besar (misal; bus). Aksi saling srobot, saling pepet seolah manuver wajib disetiap harinya.

Sedikit cerita keseharian saya bersepeda;

Pagi hari mulai berangkat kerja ketika sampai di gapura komplek, sudah agak susah untuk keluar karena kendaraan bermotor melaju kencang padahal bukan jalan besar lho. Ketika masuk ke jalan utama, mode survival pun diaktifkan Smile. Dipepet bus kota atau taxi yang berlomba mendapatkan penumpang tanpa melihat kondisi sekitar. cari makan ya cari makan tapi gak usah nyikut orang yang berangkat cari makan juga bung!.
Sedang asik di lajur sepeda, ada mobil parkir disitu alhasil harus menghindar ke kanan, kalau yang dari belakang sigap sih aman saja tapi jika sedang lengah, srempetan tak terhindarkan. Agar tetap selamat, saya harus sangat lambat atau berhenti untuk memastikan aman untuk menghindar ke kanan.
Maksud hati tertib lalu lintas di lampu merah tepat di atas ruang tunggu sepeda, tapi ketika lampu berganti hijau bahkan belum, beberapa kendaraan ‘asik’ membunyikan klakson. Akselerasi sepeda tergantung kekuatan pengendaranya jadi wajar jika agak lambat. Lalu, apa gunanya ruang tunggu sepeda yang ada di setiap baris depan lampu pengatur lalu lintas?
Obstacle terakhir adalah menyeberang atau pindah lajur. Karena sepeda termasuk kendaraan lambat, jadi harus berjalan di sisi kiri padahal saya akan belok ke kanan jadi harus perlahan-lahan pindah lajur sisi kanan kemudian berbelok. terilahat mudah memang, tapi tidak. Kendaraan bermotor melesat kencang setelah lampu hijau menyala, ironisnya disitu ada zebra cross dan kawasan perbelanjaan, sekan tak kenal ampun untuk terus melaju menjadi yang terdepan. Maka, harus menunggu ada jeda atau belas kasihan dari motorist yang memberi kesempatan untuk menyeberang. Mungkin perlu dibuat zebra cross untuk pesepeda?
Akhirnya sampai kantor, tapi penderitaan belum berakhir. Parkir sepeda yang semula sudah baik malah ditata sangat berdempetan tak ada ruang bahkan saling disenderkan satu sama lain. Ya.. alih-alih hemat tempat untuk parkir motor. Hadeh… Annoyed
Sebenarnya tidak di kantor saja melainkan ketika berbelanja di toko atau pusat perbelanjaan lain, biasanya hal serupa terjadi. Apa mungkin tidak dikenakan biaya parkir? seandainya dipungut disamakan sepeda motor, saya juga rela kok. Asal perlakuannya sama baiknya.

Maka dari itu, kita harus pandai-pandai mencari celah untuk selamat sampai di tujuan karena rambu lalu-lintas adalah ornamen kota, sedangkan marka jalan adalah karya seni mural.

Jadi takut bersepeda? tidak, asal kita berhati-hati maka akan selamat. Semua sudah diatur yang di Atas.
Selamat bersepeda kawan Peace

Tak Perlu Mengajak Mereka Bersepeda

Perlukah kita mengajak teman kita yang belum bersepeda untuk mulai bersepeda? menurut saya tidak juga, dalam arti tidak secara langsung. Memiliki teman sesama pesepeda sungguh nikmat apalagi jumlahnya yang semakin banyak. Tapi, ada beberapa alasan kenapa saya tidak pernah mengajak bersepeda secara langsung kepada teman-teman saya? (kalau di blog lain lagi :mrgreen: ). padahal saya setiap hari menggunakan sepeda sebagai alat transportasi tempat tinggal ke kantor juga tempat lainnya.
Mengajak secara langsung atau secara frontal justru akan menimbulkan rasa antipati kepada anda. misalnya; “Ayo bersepeda, biar sehat dan go green” maka biasanya akan terlontar anggapan bahwa sok hidup sehat, sok peduli lingkungan, biar terlihat keren atau hanya karena lagi ngetrend saja. Ya, sering hal-hal seperti ini saya alami.
Saya menyiasatinya hanya dengan ekspresi wajah dan gerak tubuh saja. contohnya, setiap sampai di depan kantor, saya bunyikan bel sembari senyum ke pak Satpam atau teman kerja dan menyapa dengan semangat “Halo, selamat pagi pak!”. Bisa juga bergurau pura2 mau menabrak teman dari belakang dan ngepot (ini hanya utk teman akrab lho). Ada juga ketika waktu pulang biasanya ditanya, habis kerja mau kemana? saya jawab, “mau gowes dulu sebentar mumpung lagi cerah nih n lanjut berburu kuliner” atau “mau kumpul dan gowes bareng sama teman2 sepeda di bunderan”.
Ternyata, hal-hal seperti itu yang membuat mereka (teman belum bersepeda) tertarik untuk memulai bersepeda. Seakan-akan kita menunjukkan bahwa bersepeda itu membuat semangat dan bugar tiap hari.

Cara di atas tadi menurut pengalaman saya lebih efektif. Biasanya akan dimulai dengan pertanyaan kalo gowes dimana?, harga sepeda berapa ya?, aku pingin tapi gak ada teman? dll. saat itu lah kita baru mengucapkan “Ayo bersepeda aja dulu pakai sepeda seadanya, nanti aku temenin deh. Ya itung2 hilangin stress n syukur2 bisa nambah sehat”. Sekian.

Anda punya cara lain?

foto: http://wwbpa.org

Foto Para Federalist Jogjakarta

Di prakarsai Kartika Yoga Asmara dan didukung penuh oleh teman-teman yang lain, jadilah acara kumpul federalist Jogja pada Minggu, Tanggal 24 April 2011 di  Tugu Yogyakarta. Meskipun hanya 7 orang dan 1 orang federal wannabe, tapi acara tetap meriah dari kenalan, ngobrol-ngobrol, bersepeda dan sarapan bersama. Bisa di lihat foto-foto di bawah ini bahwa sepeda Federal kami bukan yang high class atau full modif tapi keorisinilan dan kesetiannnya kepada sepeda produksi Indonesia tahun 80an ini menjadi faktor terpenting. Meski bukan berbentuk komunitas, tapi tetap solid untuk mengkonservasi sepeda-sepeda lawas ini. Punya federal? join us!

Federalist Di Area Tugu Jogja

Setelah Sarapan Bersama

Bersepeda Mencari Mangsa Pengguna Federal Lain

Lawas dan Sederhana

Nambal Ban Bocor Pada Moonstone

Saatnya Jogja Unjuk MTB Federal!

Kalo orang bilang gathering tapi intine sekedar guyup saja temen2 yang punya federal di jogja, bukan sekedar ketemu di forum.
kumpul jam 05.30 at tugu jogjakarta
“gowes bareng federales jogja.
rute tugu jogja to warung ijo pakem”
“ato keliling2 jogja”
keterangan lebih lanjut bisa di tanyakan atau di bicarakan ulang.
monggo siapkan federal kalian…

Waktu:
24 April 2011, pukul 5:30 – 11:00 WIB

Titik kumpul:
Tugu Jogja.
Dekat Pos Polisi. Jika sudah ada yang menempati, kami akan pindah sisi lain tapi masih sekitar tugu. Kami akan bentangkan spanduk mini bergambar logo grup MTB Federal seperti diatas.

Dresscode:
Bebas ato tshirt federal putih (bagi yg memiliki)

CP:
085292017620 (Yoga)
02748547880 (Bagas)

Acara ini persembahan dari Grup MTB Federal on Facebook.

Posted in Event. Tags: , , , . 2 Comments »

Nyeri Lutut Setelah Besepeda. Cedera Apanya ya?

Beberapa bulan ini saya merasakan sakit atau nyeri pada lutut saya ketika bersepeda. Saya sudah mencoba membawa ke dokter spesialis Orthopaedi dan untuk sementara dokter tersebut belum bisa mendiagnosis secara pasti apa yang saya derita meskipun sudah di periksa dan di rontgen pada lutut kiri saya. Minyak di lutut masih banyak juga tak ada retakan atau riwayat benturan pada tulang, sehingga membuat dokter tersebut memberi sebuah hipotesis kepada saya bahwa menderita tumor tulang awal atau cedera otot (mungkin ligamen). Saya disuruh kembali lagi setelah satu bulan dari pemeriksaan tersebut dan tidak boleh berolahraga yang bertumpu pada kaki sepenuhnya seperti bersepeda. membuat saya sangat terpukul  Sick smile.

Tumor tulang? saya rasa tidak karena setelah beberapa minggu rasa sakit saya hilang maka saya mulai mencari tau sendiri melalui artikel-artikel kesehatan baik dalam negeri maupun luar negeri tentang nyeri lutut. Akhirnya pun dugaan mengerucut pada cedera ligamen. Ligamen atau ligamentum menurut wikipedia adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang yang saling membentuk persendian. Ligamentum juga berfungsi mencegah dislokasi. Kenapa saya mengarah ke situ? bisa dilihat dari gambar di bawah

Anatomi Lutut (kiri) dan Letak Nyeri (kanan)

Letak nyeri saya ada pada bawah dan samping pattela (mangkuk lutut). Mungkin pada Collateral Ligament atau pada Pattelar Ligament. Tapi ini masih diagnosis saya sendiri yang mana bukan seorang ahli medis apalagi mengenai anatomi tubuh secara detil. Read the rest of this entry »