Siapa Yang Perlu Kita (Pesepeda) Lawan?


Gelombang bersepeda menurut pengamatan saya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Entah apa sebabnya lepas dari itu hal ini menggembirakan. Tetapi, dengan meningkatnya jumlah pesepeda itu, timbulah gesekan antar pengguna jalan. Ya, tidak dipungkiri lagi antara pengguna kendaraan bermotor (motoris) dengan pesepeda. Beberapa pihak memprotes atau melawan perampasan hak guna jalan dengan cara langsung di tempat atau mengadakan acara protes bersama tapi tak berkoordinasi dengan kepolisian, ada juga mencerca pendapat pesepeda lain dengan paham, ideologi, fanatisme atau semacamnya. Hal ini justru telah menimbulkan konflik horisontal antara pesepeda dengan motoris juga pesepeda dengan pesepeda lain.

Bukan berarti saya rela-rela saja hak guna jalan saya dirampas oknum motoris. Hampir setiap hari saya pakai sepeda dan selalu mengalami hal buruk itu. Lalu, jika saya melawan seketika, mungkin akan seperti saya utarakan tadi. Bisa saja kebetulan pas motorisnya preman saya digebuki mereka, selain babak belur, ini tidak akan efektif mengembalikan hak pesepeda, andai kata dimeja hijaukan kasusnya pun penganiayan bukan pelanggaran hak. Lantas, siapa yang perlu kita lawan? jawabnya adalah pemerintah, polisi dan pihak terkait masalah ini. Kata “lawan” di sini bukan berarti kita melakukan kudeta lho tapi memprotes agar penegakkan undang-undang benar-benar ditegakkan. Kalau tidak salah ada UU No.22 Tahun 2009 membahas tentang sepeda juga.
Jika UU yang ada benar-benar ditegakkan dan ada sanksi nyata maka pesepeda dan pejalan kaki tidak usah minta ruang, secara otomatis akan tercipta. Apalah arti ruang trotoar jika untuk jualan dan parkir, apalah arti ruang lajur sepeda jika untuk ngetem taksi dan lajur mendahului, apalah arti ruang tunggu sepeda jika untuk motor/mobil yang ngeblong. Tapi jika kita balik misalkan tak ada lajur sepeda dan ruang tunggu tapi penegakkan UU berjalan baik maka pasti akan terjadi “ruang-ruang” yang kita impikan. Jadi harus seimbang antara de jure dan de facto. Undang-undang sebagai de jure atau adanya hukum yang berlaku, lajur sepeda dan rambu-rambu sebagai de facto untuk mempertegas secara nyata hukum yang ada.

Ketika UU itu benar-benar ditegakkan, kita (pesepeda) juga harus konsekuen. Konsekuensinya ya kita juga harus menghormati pengguna jalan lain dan taat hukum seperti berada pada lajur kiri/lambat, menggunakan perlengkapan keamanan seperti lampu depan dan belakang, tidak boleh ditarik motor, tidak boleh berboncengan kecuali ada rack boncengan, pesepeda tuna rungu harus memakai tanda di depan dan belakangnya, lampu merah berhenti di belakang garis, menyeberang atau putar arah pada tempatnya dan masih banyak lagi agar pengguna jalan lain tidak merasa terganggu. Sudah siapkah kita seperti itu?

Bersepedalah dengan senang, santun dan simpatik🙂

4 Responses to “Siapa Yang Perlu Kita (Pesepeda) Lawan?”

  1. ikan Says:

    tulisannya bikin adem….kaya yang nulis😀

    • pedalsepedaku Says:

      wah saya di ‘teror’ sama ikan:mrgreen:

      makasih sob🙂

  2. curlydevy Says:

    aku mw beli bersepeda ke kerjaan dilarang sama ortu, katanya kejauhan n jalanan berbahaya.. duh..

    • pedalsepedaku Says:

      bersepeda itu pilihan kok mbak jadi kalo memang bukan pilihan yang terbaik ya pilih yang terbaik bagi mbak dev dan lingkungan hehe
      *sok-sokan memberi wejangan sama senior*:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: