Bersepeda Di Bukit Menoreh, Sebuah Torehan Kekonyolan


Minggu 16 Januari 2011, acara bersepeda diprakarsai oleh Moko atau biasa dipanggil mpok Moko. Sedangkan anggota yang lain saya dan teman saya Bunje atau akrab dipanggil Pak Bun. Awalnya cuma 3 orang namun detik-detik akhir sebelum keberangkatan, menyusulah Angga (sepeda lipatnya pernah jadi bahan omongan di blog ini). Kami berempat langsung bergerak pukul 06.00 menuju ke paling barat Yogyakarta yaitu Bukit Menoreh.

Apa sih bukit Menoreh itu? ya, singkatnya adalah sebuah bukit terbuat dari karang yang memiliki puncak berada pada kurang lebih 1100 m di atas permukaan laut. Bukit ini terletak paling barat propinsi Yogyakarta tepatnya perbatasan Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Purworejo sekaligus batas alami antara DIY dan Jateng. Disinilah pangeran Diponegoro dan puteranya pernah bertempur melawan Belanda. Demikian sekilas tentang bukit Menoreh, kita kembali ke cerita berikutnya…

Bukit Menoreh (Sumber: http://menorehwood.wordpress.com/)

Perjalanan terhenti sejenak karena kami harus mengisi bahan bakar sepeda yaitu sarapan. Setelah sarapan, petualangan pun dimulai….

Sungguh di luar dugaan saya, karena saya tidak tau rute akan kemana sehingga agak kaget sebuah bukit menjulang dihadapan. Saat itulah saya baru tau kalau rute saat itu dengan menembus bukit. Saya hanya tahu tujuannya yaitu ke Kaligesing Purworejo. Tetapi semua sepakat apapun yang terjadi kami harus bisa melewatinya tanpa bantuan kendaraan bermesin.
Tanjakan yang sangat menukik membuat kami turun dari sepeda dan menuntunnya. Saya pikir, seorang atlet pesepeda pun juga akan melakukan hal yang sama mungkin beda pada intensitas menuntunnya. Bukan mau cari pembelaan lho, karena ketika kami berhenti beristirahat ada mobil yang 2 kali berhenti untuk mengambil ancang-ancang menanjak dengan kepayahan, ada juga motor keluaran baru dengan mesin 110 CC juga “ngeden” saat menanjak malah kata si Moko, temannya pakai motor matic tidak kuat menanjak. Suara letupan knalpot dan raungan mesin tak jarang kami dengar disana.

Tanjakan demi tanjakan kami lalui bersama meskipun jarak 1 km saja kami harus istirahat 3-4 kali. Kami kembali menaiki sepeda apabila ada jalan datar. Tetapi walaupun kami sudah loyo, semangat kembali terisi berkat pemandangan sepanjang jalan sungguh elok. Kami pun bisa melihat kota Jogja di sepanjang jalan itu. Pemandangan yang elok tak habis-habisnya hingga kami sampai disebuah hutan cemara dan lembah cemara. Suara angin yang menembus dedaunan ditambah kabut dan suhu dingin membuat suasana begitu misterius tapi menakjubkan. Meskipun kami diberikan pemandangan yang indah tapi ada juga yang membuat kami tak nyaman. Hal itu adalah penduduk sekitar yang rese’ atau kurang kerjaan. Mereka mencibir kami dengan kata-kata yang kurang enak didengar serta gerakan-gerakan provokatif layaknya pemain sepakbola yang ingin menghina lawannya. Biarlah, lagian masih banyak penduduk sekitar menyapa dengan ramah, menebar senyum dan mendoakan kami semoga sampai tujuan dengan selamat. Bahkan ada juga seorang pengendara motor lengkap dengan atribut touring-nya memberikan acungan jempol ketika kami berusaha naik ke tanjakan yang berat.

Setelah tanjakan, dan saatnya berpesta! yihaaaa…turunan yang curam membuat kami tertawa lepas meskipun ini berbahaya. Alhamdulillah sebelum berangkat semua sepeda dalam keadaan prima khususnya rem. Udara dingin nan bersih serta tikungan tajam membuat perjalanan lebih menantang.
Hooollldd!! aba-aba tangan mengepal dari tour leader kami, Angga. apa yang terjadi? ternyata sebuah papan peta wisata air terjun Curug Silangit. Tanpa pikir panjang, langsung serang lokasi tersebut. Ternyata nanjak lagi! hadeh, kami benar-benar kepayahan ketika kami sampai di loket Curug. Kami wajib membayar karcis masuk (resmi) sebesar Rp2000 per orang. Jalan menuju air terjun sejauh 1.5 km dan itu nanjak lagi.

kaligesing

Rute Jogja-Kaligesing-Jogja (111 Km)

Puas bermain air di Curug Silangit, kami melanjutkan perjalanan pulang melalui Kaligesing dan tembus di Purworejo Jl. Propinsi. Jalan Purworejo-Yogyakarta sangat gelap, untung saja Angga membawa beberapa stuff yang sangat membantu antara lain; headlight (dipasang di kepala), tail lamp meski battery sudah agak lemah dan 2 reflektor berupa pengikat celana panjang. Pemilik headlight memimpin disusul sepeda tak punya penanda sama sekali kemudian sepeda memiliki 1 reflektor dan terakhir sepeda dilengkapi reflektor dan tail lamp. Formasi ini tetap dipertahankan sepanjang perjalanan yang mana terus mendapatkan teror dari bus malam, truk dan mobil dari depan maupun belakang sehingga tidak boleh ada yang lengah sedikit pun. Ini yang menjadi kesulitan meskipun track lurus dan datar. Menjaga konsentrasi ketika rasa kantuk dan lelah menyerang membuat kami harus beberapa kali berhenti untuk penyegaran. Hingga pada akhirnya sampai di Jogja pukul 00.00 tapi hingga benar-benar sampai di rumah pukul 02.30. Tidur cuma 3 jam lalu lanjut ngantor dan di kantor pun sudah bisa disimpulkan Sleepy smile.

Jarak total yang ditempuh sekitar 111 Km (versi google earth) dengan menghabiskan waktu 20 jam (termasuk waktu rekreasi dan makan). Ini merupakan rekor baru saya setelah bersepeda Jogja-Sragen yang menempuh jarak 90-100 Km.

Begitulah kekonyolan yang telah kami torehkan. Saya harap anda tidak menirunya karena hal ini adalah insidentil di luar perkiraan.

Bermain air di Air Terjun Curug Silangit

6 Responses to “Bersepeda Di Bukit Menoreh, Sebuah Torehan Kekonyolan”

  1. adhit Says:

    wah asik juga nih rutenya, cuma klo sampe pulang malem bahaya juga ya… emanya brangkat jam brapa n sampe sana jam brapa sih kok bisa pulang malem? waktu tempuh brangkat brapa jam? aq mau ngomporin grupku naik ksana ah, hehe..

    • pedalsepedaku Says:

      berangkat pukul Minggu pukul 06.00 dan sampai rumah senin 02.30. sampai di curug silangit pukul 15.00. kalo anda n teman2 punya fisik dan ketahanan yg bagus bisa lebih cepat, sedangkan kami sebaliknya:mrgreen:. betul, jangan perjalanan malam. selamat gowes🙂

  2. rojin sabas pitaha Says:

    wah,salut banget atas semangat kalian. terusterang,ini membuat sy yg tua ini begitu iri. ingin rasanya ikutan. tp,itu tentu saja sudah tidak mungkin lagi dapat sy lakukan. mengingat pisik yg semakin lemah termakan usia. disamping,juga karena kurangnya latihan…

    • pedalsepedaku Says:

      saya juga banyak nuntunnya kok om. denger2 ada yg tetep digowes lho, berarti saya yg under estimate hehe. gowes di jalan flat juga asik kok, asal di desa2 lho. selamat gowes om🙂

  3. mawi wijna Says:

    weh, baru tahu Bagas punya blog.

    Ane 2x tu ngerasain jahanamnya tanjakan ke Kiskendo. Malem2 sm Kang SUpri & Radit. Siang sama Angga, Pakdhe Timin, & Arisma. Emang bener2 nggak mungkin klo naiknya nunggang sepeda. Ada-ada aja yg buat itu jalan.

    • pedalsepedaku Says:

      haha ini blog2an jarang update. tak kira pada kuat dinaiki terus. kalo aku jelas kewer2 bung :))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: