Kompilasi Foto Nyepeda #1

Sekedar post foto2 ketika bersepeda. Foto ini hasil bidikan amatir dan hanya memakai kamera ponsel saya.

manahan

Patung Manahan Solo, 20-03-2011. Sekitar pukul 04.30

 

Pipa Saluran Air Laut, Pantai Kuwaru Bantul 25-09-2011

 

Goa Cemara, Pantai Goa Cemara Bantul, 25-09-2011

 

Embung, Tambakboyo Sleman. 08-10-2011

Sabo Dam, Kali Gendol Lereng Merapi Sleman. 13-11-2011

 

Jika ketika nyepeda bareng teman yang punya kamera bagus, saya tidak motret jadi ini hanya foto sebagian tujuan bersepeda saya yang terekam di ponsel saya.

Jogja-Solo-Jogja (Lagi)

Setelah dahulu pernah touring dengan rute yang sama yaitu Jogja-Solo PP, kini saya melakukannya lagi dengan teman yang berbeda. Kali ini ditemani oleh Abul dan Mpok Moko. Karena Abul ada acara ketika sabtu siang, maka start perjalanan direncanakan sabtu tanggal 19 Maret 2011 pukul 22.00 tapi karena hujan maka mundur menjadi pukul 00.00 baru start dari pertigaan Janti Yogyakarta.

DSC00051

Patung Obor Stadion Manahan. 04.30 WIB

Tentunya merasakan sensasi yang berbeda karena touring sebelumnya start pukul 19.00 yang lalulintasnya masih ramai sedangkan kali ini sudah sepi. Jelas saja pukul 00.00 sebagian besar orang sudah tak beraktifitas lagi di luar rumah.
Perjalanan yang gelap dan dingin tak menyurutkan semangat kami juga touring ini bersamaan dengan peristiwa posisi bulan terdekat dengan bumi atau biasa dibilang “Supermoon”. Tak jarang kami selalu menengok ke bulan untuk mengetahui apakah sudah terjadi yang menurut pemberitaan akan terjadi puncaknya pukul 02.00.

Genjotan demi genjotan dengan santai dibarengi canda tawa sepanjang perjalanan membuat kami tidak merasa kantuk dan lelah hingga pada akhirnya sampai Solo pukul 04.15 dan kami terus berjalan menuju arah stadion Manahan solo juga kami beristirahat, berfoto, buang air dan sholat subuh di salah satu masjid dekat stadion itu. Read the rest of this entry »

Serangan Fajar Pantai Depok

depok beach

Perahu Nelayan Pantai Depok Bersandar (Foto: jogjanesia.com)

Masih berempat sekawan seperti tulisan sebelumnya. Kali ini kami bersepeda melakukan serangan fajar ke Pantai Depok. Pantai Depok merupakan salah satu pantai yang berada di Yogyakarta terkenal dengan wisata kuliner sea food yang murah karena merupakan tempat tempat pelelangan ikan selain itu, turis juga bisa langsung membeli ikan ketika perahu nelayan kembali dari laut.

Ide untuk bersepeda bersama muncul pada hari sabtu pukul 22.00 yang mana kami berempat hanya mengandalkan pesan berantai melalui SMS. Saya sendiri waktu itu sedang gowes malam sendirian dan yang lain berada pada tempat yang berbeda. Setelah berunding diputuskan dengan tema jelajah pantai dan berangkat pukul 01.00 Minggu dini hari. Karena hujan cukup deras, akhirnya kami tertunda dan berangkat pukul 01.30 itu pun masih gerimis. Jelas saja tantangan utamanya adalah gelap dan suhu udara yang dingin apalagi ditambah gerimis. Tanpa menggunakan jas hujan atau rain coat, kami terus melakukan perjalanan.

Hujan semakin deras membuat kami terpaksa berhenti sejenak di emperan toko yang belum buka. Tapi, jika menunggu terang akan terlambat misi kami yaitu melihat sunrise maka diputuskan untuk menerjang hujan. Suhu yang sangat dingin ditambah kecepatan yang lumayan ngebut membuat kami lapar sehingga diputuskan untuk berhenti di angkringan dekat perempatan. Nasi kucing beberapa bungkus, gorengan dan minuman hangat cukup membekali kami melanjutkan perjalanan.

Kumandang Adzan terdengar, kebetulan ada SPBU Parangtritis yang memiliki fasilitas komplit dan prima. Kami berhenti untuk buang air kecil, air besar dan yang terakhir beribadah sholat Subuh kecuali Pak Bun beragama nasrani siaga menjaga tas dan sepeda kami. Setelah semua selesai, kami lanjut perjalanan lagi dengan cuaca masih gerimis. Akhirnya kami sampai di Pantai Depok pukul 05.00 dan langsung memarkir sepeda di gubuk tepi pantai yang kosong kemudian bergegas ke tepian pantai berharap melihat matahari terbit di garis cakrawala. Read the rest of this entry »

Bersepeda Di Bukit Menoreh, Sebuah Torehan Kekonyolan

Minggu 16 Januari 2011, acara bersepeda diprakarsai oleh Moko atau biasa dipanggil mpok Moko. Sedangkan anggota yang lain saya dan teman saya Bunje atau akrab dipanggil Pak Bun. Awalnya cuma 3 orang namun detik-detik akhir sebelum keberangkatan, menyusulah Angga (sepeda lipatnya pernah jadi bahan omongan di blog ini). Kami berempat langsung bergerak pukul 06.00 menuju ke paling barat Yogyakarta yaitu Bukit Menoreh.

Apa sih bukit Menoreh itu? ya, singkatnya adalah sebuah bukit terbuat dari karang yang memiliki puncak berada pada kurang lebih 1100 m di atas permukaan laut. Bukit ini terletak paling barat propinsi Yogyakarta tepatnya perbatasan Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Purworejo sekaligus batas alami antara DIY dan Jateng. Disinilah pangeran Diponegoro dan puteranya pernah bertempur melawan Belanda. Demikian sekilas tentang bukit Menoreh, kita kembali ke cerita berikutnya…

Bukit Menoreh (Sumber: http://menorehwood.wordpress.com/)

Perjalanan terhenti sejenak karena kami harus mengisi bahan bakar sepeda yaitu sarapan. Setelah sarapan, petualangan pun dimulai….

Sungguh di luar dugaan saya, karena saya tidak tau rute akan kemana sehingga agak kaget sebuah bukit menjulang dihadapan. Saat itulah saya baru tau kalau rute saat itu dengan menembus bukit. Saya hanya tahu tujuannya yaitu ke Kaligesing Purworejo. Tetapi semua sepakat apapun yang terjadi kami harus bisa melewatinya tanpa bantuan kendaraan bermesin.
Tanjakan yang sangat menukik membuat kami turun dari sepeda dan menuntunnya. Saya pikir, seorang atlet pesepeda pun juga akan melakukan hal yang sama mungkin beda pada intensitas menuntunnya. Bukan mau cari pembelaan lho, karena ketika kami berhenti beristirahat ada mobil yang 2 kali berhenti untuk mengambil ancang-ancang menanjak dengan kepayahan, ada juga motor keluaran baru dengan mesin 110 CC juga “ngeden” saat menanjak malah kata si Moko, temannya pakai motor matic tidak kuat menanjak. Suara letupan knalpot dan raungan mesin tak jarang kami dengar disana. Read the rest of this entry »

NR Gembira

Funbike atau dalam bahasa Indonesianya sepeda gembira. Trus, apa itu NR Gembira? hehe cuma buat istilah sembarangan aja Big Grin. NR kependekan dari Night Ride yaitu aktifitas bersepeda malam hari dan cenderung ke larut malam. entah apakah ini sesuai English EYD Thinking. Beberapa orang mengatakan jika NR pada jalan perkotaan dinamakan CNR (City Night Ride) sedangkan NR adalah offroad/XC pada malam hari. Nah, kali ini cuma mau cerita pengalaman NR bersama teman-temanku sewaktu di Jogja dengan gembira tanpa adanya aturan-aturan yang membebani kami.

Jumlah kami hanya 6 orang dan dengan sepeda yang pas-pasan dan apa adanya. Sepeda tersebut adalah x-trada, Tango, Scott, Federal Street Cat (punya ku), Phoenix (sepeda mini) dan MTB Chromoly yang nggak tau mereknya tapi mirip federal. Disinilah uji 3 fork suspension versus 3 fork rigid haha lebay Laughing. Awalnya nggak ada niat buat NR tapi bisikan misterius membuat kami melakukannya.

NR Brotherhood

General check-up sepeda dan briefing dilakukan di depan mini market 24 jam di kawasan Gejayan (Jl. Afandi). Start sekitar pukul 21.00 WIB. Kelengkapan kami juga sangat minim yaitu lampu abal-abal yang kalo kena guncangan kadang mati Big Grin. Diawali melintas di bawah jembatan yang baru dibangun di salah satu kali tapi saya lupa namanya. blusuk sana-blusuk sini lewat perkampungan yang mayoritas warganya sudah tidur. Saking belak-belok dan tempat yang gelap terus menerus sepanjang jalan saya sendiri tidak tau ini daerah mana. Setelah lama kemudian, ketemu track paling mengasyikkan yaitu menuju Tambak Boyo daerah Condong Catur. Jalannya gelap, berkelok-kelok, naik turun, offroad, licin karena pasca hujan. Alunan hentankan fork regid dan hardtail membuat semakin semangat sekaligus pegel Hypnotized. Saya juga sempat menghantam lubang dan teman saya menghantam bekas tembok kecil yang diruntuhkan. Braak!. tetapi tidak ada yang luka dan kerusakan (adapun mesti tidak terlihat atau dirasakan). Stop! Stop! Wew Surprise kami dicegat segerombolan orang-orang ronda di salah satu kampung. negatif thinking pun mulai… owh ternyata aku salah, mereka  hanya menanyai kami kenapa kok larut malam bersepeda di tempat gelap? juga mereka memberi tahu bahwa jalan di depan bahaya karena licin habis hujan. Setelah kami jelaskan maka lanjuuuuut. Read the rest of this entry »

Jogja-Sragen, Lunas!

Proses service selesai

Lunas! itulah kata yang terucap dalam hati ketika memegang pintu gerbang rumahku sepulang perjalanan dari Jogja ke Sragen. Ya, ini merupakan janjiku dan sepedaku untuk digunakan pulang kampung alias mudik. mungkin kalau untuk kategori long trip atau touring masih kurang jauh ya gak apa-apalah. berikut ceritanya:

Persiapan
Beberapa hari sebelum D-day, sepeda atau sebut saja Stacy (Federal Street Cat) dibongkar untuk servis besar termasuk ganti rims dan kabel rem. Dibantu Mas Danang Moakh dengan keterampilan mekanikalnya juga Angga The Dahon Long Trip, Mas Bayu (Ki Ageng Sekar Jagad) dan pak Aris (Jaya Elektronik) dimana mereka meminjamkan alat-alat dan keahliannya. Singkat kata, sepeda sudah terakit dengan baik dan mantab.

Test Ride
Dilakukan pengujian pasca servis dengan keliling kota Jogja dan hasilnya laik jalan.

D-Day
Yogyakarta, Senin 8 Nopember 2009 pukul 03.05 (pagi). Perjalanan dimulai dengan santai berikut bekal berupa tool kit, baju, makanan, minuman dan tentunya uang secukupnya.
Jalanan pagi yang sepi dan udara sejuk membuat tidak cepat lelah selain itu bareng sama ibu-ibu bakul pasar yang hendak ke pasar. Ketika sampai di Delanggu pukul 05.00 saya putuskan untuk rehat kencing, cuci muka dan lain sebagainya di

Nyepeda ke Candi Ijo, Candi yang Letaknya Tertinggi di Yogyakarta

Sebelum dimulai cerita perjalanan ke Candi Ijo, kita simak dulu penjelasannya dari kang Wiki;

Candi Ijo adalah candi Hindu yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno, dan terletak pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut (bukit tertinggi di wilayah Prambanan). Karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo, maka pemandangan di sekitar candi sangat indah, terutama kalau melihat ke arah barat akan terlihat wilayah persawahan dan Bandara Adisucipto.

Candi ini merupakan kompleks 17 buah bangunan yang berada pada sebelas teras berundak. Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara), seperti yang nampak pada pintu masuk Candi Borobudur. Dalam kompleks candi ini terdapat tiga candi perwara yang menunjukkan penghormatan masyarakat Hindu kepada Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.

DSC04724

Candi Ijo

Nyepeda (bersepeda) dimulai dari kota Yogyakarta bersama tiga teman saya sehingga hanya kami berempat (2 laki-laki, 2 perempuan) langsung tancap ke daerah timur Yogyakarta itu. Perjalanan sangat menyenangkan karena masih pagi dan pemandangan di sepanjang perjalanan sangat menyejukkan badan dan jiwa juga senyum dan sapa ramah dari penduduk desa yang kami lalui.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.