Kemarin baca di media online Kompas, kalau Carlos Santana sang gitaris kondang nan legendaris juga musisi favorit saya itu mau datang ke Indonesia pada Maret 2011 untuk tampil di Java Jazz. Namun ada yang menarik di berita itu, yaitu bahwa sebenarnya Peter Gonta (promotor Java Jazz) beberapa kali mengundang dia untuk bisa tampil di Indonesia tapi Santana menolak terus dengan alasan yang diluar tebakkan saya. Kebanyakan artis luar yang menolak datang ke Indonesia biasanya masalah keamanan atau suhu politik yang masih panas sehingga si artis takut datang ke sini tapi lain dengan Santana. Dia beberapa kali menolak datang ke Indonesia karena Indonesia telah melakukan dan membiarkan pengrusakkan hutan serta masyarakat yang belum sadar lingkungan.
Menghadirkan Santana ke Indonesia bukan perkara mudah. Peter mengatakan, berkali-kali dia meminta gitaris itu tampil di Indonesia, tetapi selalu ditolak. Alasan Santana, Indonesia itu negara yang suka membabat hutan dan belum sadar lingkungan.
”Saya lalu bilang kepada dia (Santana), kalau Anda tidak datang ke Java Jazz, Anda tidak bisa menyadarkan orang Indonesia. Akhirnya dia mau datang, he-he-he,” kata Peter.
Kemudian saya mencoba ke website resminya Santana karena penasaran, apa iya dia peduli lingkungan sampe segitunya. Padahal kan lumayan honornya kalo bisa tampil di Indonesia dan bisa liburan gratis pula
.
Yap, setelah sampai di websitenya, pada menu [We Cares About] di klik dan muncul beberapa logo organisasi nirlaba tentang kemanusian dan lingkungan hidup seperti Greenpeace dan Rainforest Action Network. Entah apa aksi si Santana terhadap organisasi tersebut tapi kemungkinan besar adalah sebagai donatur rutin.
Ternyata kita masih punya PR besar mengenai lingkungan hidup kita. Mari kita benahi bersama sembari mendengarkan alunan musik played by Carlos Santana!
Sumber: www.kompas.com, www.santana.com

Jika kita melihat sampah yang berserakan di jalan atau di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) mayoritas dihuni oleh tas/kantong plastik. Benda ini begitu praktis dan kuat untuk membawa barang sehingga tidak lepas dari aktifitas kita sehari-hari, tetapi sisi negatifnya adalah sifat plastik yang sangat sulit diurai dan terus terakumulasi hingga berton-ton huga mencemari tanah sedangkan jika di bakar jelas akan mencemari udara.
Jakarta,(ANTARA News) – Pencemaran udara di Indonesia, khususnya Jakarta telah mengalami tingkat yang mengkhawatirkan dibandingkan dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), kata staf ahli Menteri kehutanan bidang lingkungan, Yetti Rusli.



