Kompilasi Foto Nyepeda #1

Sekedar post foto2 ketika bersepeda. Foto ini hasil bidikan amatir dan hanya memakai kamera ponsel saya.

manahan

Patung Manahan Solo, 20-03-2011. Sekitar pukul 04.30

 

Pipa Saluran Air Laut, Pantai Kuwaru Bantul 25-09-2011

 

Goa Cemara, Pantai Goa Cemara Bantul, 25-09-2011

 

Embung, Tambakboyo Sleman. 08-10-2011

Sabo Dam, Kali Gendol Lereng Merapi Sleman. 13-11-2011

 

Jika ketika nyepeda bareng teman yang punya kamera bagus, saya tidak motret jadi ini hanya foto sebagian tujuan bersepeda saya yang terekam di ponsel saya.

Siapa Yang Perlu Kita (Pesepeda) Lawan?

Gelombang bersepeda menurut pengamatan saya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Entah apa sebabnya lepas dari itu hal ini menggembirakan. Tetapi, dengan meningkatnya jumlah pesepeda itu, timbulah gesekan antar pengguna jalan. Ya, tidak dipungkiri lagi antara pengguna kendaraan bermotor (motoris) dengan pesepeda. Beberapa pihak memprotes atau melawan perampasan hak guna jalan dengan cara langsung di tempat atau mengadakan acara protes bersama tapi tak berkoordinasi dengan kepolisian, ada juga mencerca pendapat pesepeda lain dengan paham, ideologi, fanatisme atau semacamnya. Hal ini justru telah menimbulkan konflik horisontal antara pesepeda dengan motoris juga pesepeda dengan pesepeda lain.

Bukan berarti saya rela-rela saja hak guna jalan saya dirampas oknum motoris. Hampir setiap hari saya pakai sepeda dan selalu mengalami hal buruk itu. Lalu, jika saya melawan seketika, mungkin akan seperti saya utarakan tadi. Bisa saja kebetulan pas motorisnya preman saya digebuki mereka, selain babak belur, ini tidak akan efektif mengembalikan hak pesepeda, andai kata dimeja hijaukan kasusnya pun penganiayan bukan pelanggaran hak. Lantas, siapa yang perlu kita lawan? jawabnya adalah pemerintah, polisi dan pihak terkait masalah ini. Kata “lawan” di sini bukan berarti kita melakukan kudeta lho tapi memprotes agar penegakkan undang-undang benar-benar ditegakkan. Kalau tidak salah ada UU No.22 Tahun 2009 membahas tentang sepeda juga.
Jika UU yang ada benar-benar ditegakkan dan ada sanksi nyata maka pesepeda dan pejalan kaki tidak usah minta ruang, secara otomatis akan tercipta. Apalah arti ruang trotoar jika untuk jualan dan parkir, apalah arti ruang lajur sepeda jika untuk ngetem taksi dan lajur mendahului, apalah arti ruang tunggu sepeda jika untuk motor/mobil yang ngeblong. Tapi jika kita balik misalkan tak ada lajur sepeda dan ruang tunggu tapi penegakkan UU berjalan baik maka pasti akan terjadi “ruang-ruang” yang kita impikan. Jadi harus seimbang antara de jure dan de facto. Undang-undang sebagai de jure atau adanya hukum yang berlaku, lajur sepeda dan rambu-rambu sebagai de facto untuk mempertegas secara nyata hukum yang ada.

Ketika UU itu benar-benar ditegakkan, kita (pesepeda) juga harus konsekuen. Konsekuensinya ya kita juga harus menghormati pengguna jalan lain dan taat hukum seperti berada pada lajur kiri/lambat, menggunakan perlengkapan keamanan seperti lampu depan dan belakang, tidak boleh ditarik motor, tidak boleh berboncengan kecuali ada rack boncengan, pesepeda tuna rungu harus memakai tanda di depan dan belakangnya, lampu merah berhenti di belakang garis, menyeberang atau putar arah pada tempatnya dan masih banyak lagi agar pengguna jalan lain tidak merasa terganggu. Sudah siapkah kita seperti itu?

Bersepedalah dengan senang, santun dan simpatik :)

Perang Slogan Iklan Produsen Mobil VS Produsen Sepeda

Genderang perang ditabuh General Motor:

Iklan Produsen Mobil, General Motor

Giant pun menjawabnya:

Iklan Produsen Sepeda, Giant

General Motor (GM) pun telah menarik iklan tersebut karena banyak dikecam para pesepeda di Amerika. Menurut GM, iklan tersebut hanya sebuah joke dan tak ada maksud menyerang pihak manapun. Hadeh… :mrgreen:

Sumber:

http://urbanvelo.org/stop-pedaling-start-driving

http://latimesblogs.latimes.com/money_co/2011/10/gm-pulls-advertisment-that-offended-cyclists-.html

Venzo Brake Shoes

Lama tak menulis di blog tercinta ini. Sekarang saatnya kembali menulis lagi meskipun tulisan sederhana dan semoga padat guna.

Kali ini saya akan sedikit cerita tentang salah satu merek kampas rem (brake shoes) v-brake yang kebetulan baru saya beli beberapa hari lalu. Mereknya adalah Venzo, buatan Taiwan. Berikut keterangan singkatnya:

Spesifikasi:

  • Code: VZ-E08V-002
  • Model: V Brake Shoes
  • Material: Alloy/Rubber
  • Length: 72 mm
  • Spec: All Weather Compound

Satu set brake shoes ini harganya Rp55.000  atau sama dengan brake shoes Shimano non series. Bedanya adalah Venzo lebih panjang sedangkan Shimano ukuran standar.

Karakteristik compound (karet) cenderung lebih lunak jika saya bandingkan dengan brake shoes Tektro bawaan. Menurut saya, hal ini membuat lebih nyaman dalam pengereman karena akan lebih lembut sehingga roda tidak gampang terkunci atau ngepot,  ya meskipun bisa juga buat ngepot selain itu bersahabat dengan dinding velg (rims). Kelemahan compound lunak adalah mudah habis.
Cekungan dibuat membelah miring, mungkin dimaksudkan agar kotoran, debu atau air mudah terbuang saat melakukan pengereman jika dibandingkan cekungan tegak lurus.
Baut kunci L terbuat dari material alloy yang lebih keras dari bawaan Tektro selain itu penampilannya menarik karena berlapis krom.
Sesuatu yang kurang sreg adalah pewarnaan dan pencetakan merek yang tidak rapi. Agak gelepotan membuat produk ini kurang ‘mencuri’ perhatian bagi orang awam seperti saya. Jujur saja, awalnya nggak yakin tapi penasaran nyoba beli 1 set dulu untuk rem belakang, ya karena finishing kurang rapi itu.
Secara keseluruhan, produk ini cukup memuaskan bagi saya. Setidaknya kalau kata mbak yang jaga rental film, ‘bagi yang ingin coba keluar dari mainstream’, produk ini bisa jadi pilihan :mrgreen:

www.venzobike.com

Tunjukkan Federal-mu Jogjakarta #3

Pengguna Federal atau biasa disebut Federalist Jogjakarta mengadakan guyub rukun sekaligus gowes bareng yang ke-3 kalinya. Acara ini bukan dari sebuah komunitas/klub sepeda melainkan hanya media  berkumpul penghobi sepeda lawas asli Indonesia ini untuk bertukar informasi, pengetahuan dan komponen sepeda tanpa adanya struktur keorganisasian. Meski demikian, Acara ini bebas diikuti oleh siapa saja walaupun bukan pengguna Federal. Kami hanya ingin mengenalkan bahwa Federal belum habis dan tak perlu minder dengan sepeda-sepeda keluaran baru bahkan ber banderol mahal. Acara tersebut dilaksanakan pada:

Waktu: Minggu ,24 Juli 2011

Pukul:  05.30 – Selesai

Tempat: Perempatan Tugu Jogja

Rute gowes: Tugu Jogja – Menyusuri sepanjang selokan Mataram

Acara tidak dipungut biaya alias 100% gratis. selain itu, acara tidak memiliki EO atau kepanitiaan tapi ada koordinator untuk jalannya acara. Jadi, mohon persiapkan kebutuhan dan perlengkapan sendiri meskipun nanti beberapa dari kami membawa perlengkapan untuk jaga-jaga jika ada yang butuh bantuan.

CP: 083869082435 (Bagas)

FB: http://www.facebook.com/event.php?eid=135643759850727

Sepeda Terringan Di Dunia

Sepeda ini di buat oleh Günter Mai (Jerman) yang merupakan hasil riset dan pengembangan proyek sepeda ringannya selama beberapa tahun. Sepeda ini bernama “Spin Bike”. Bobot keseluruhan sepeda ini sangat menakjubkan, yaitu kurang dari 3 Kg! yaitu tepatnya 2967.7 g. Bobot ini hampir sama dengan bobot tas ransel yang saya bawa sehari-hari berisi laptop, charger, cooler, buku dan perlengkapan lain. Bisa dibilang, saya bisa menggendong sepeda ini di atas sepeda saya. Hampir semua bagian sepeda ini dibuat custom dan \menggunakan bahan Fiber Carbon yang sudah banyak menjadi pilihan produsen sepeda karena bobot yang ringan dan kuat. Meski sangat ringan, sepeda ini tidak diperuntukkan balap sepeda karena dalam balap sepeda, tidak hanya sepeda ringan saja yang dibutuhkan, melainkan kekakuan frame, tingkat kestabilan, aerodinamika dan komponen lain masih terbuat dari bahan metal, hal inilah kadang harus ada kesesuaian antara bobot dengan performa yang berakibat bobot menjadi tidak sangat ringan.
Sepeda ini diakui terringan di dunia ketika tampil di acara Interbike 2010 Las Vegas, America.

Spesifikasi Spin Bike:

Rahmen / Frame: SPIN custom made 642,5 g
Gabel / Fork: THM Scapula SP Tuned custom made 185,9 g
Kurbelsatz / Crankset: THM Clavicula Compact custom made 298,0 g
Lenker / Handlebar: Schmolke-Carbon TLO custom made 111,3 g
Sattel/Stütze / Saddle/Seatpost: Schmolke-Carbon TLO custom made / Speedneedle 75,1 g
Laufräder / Wheels: Lew Pro VT-1 custom Boron 709,6 g
Reifen / Tires: Tufo 200,1 g
Schnellspanner / Quick releases: Tune Skyline 16,3 g
Vorbau / Stem: Nordischer Rahmenbau CfK-stem 53,8 g
Steuersatz / Headset: Integrated 23,4 g
Ahead-Kappe / Ahead-Cap: Carbon 0,2 g
Lenkerband / Bar tape: Foam rubber 5,0 g
Bremshebel / Brake levers: Record modified 86,5 g
Bremsen / Brakes: AX-Lightness Orion SL modified, BTP brake shoes 71,6 g
Schalthebel / Shifters: BTP Carbon 9,0 g
Umwerfer / Front derailleur: Record / BTP 28,5 g
Schaltwerk / Rear derailleur: Huret / BTP / Stefan Schäufle 40,7 g
Kettenblätter / Chainrings: Patrick Gunsch 50 / Fibre-Lyte 36 53,8 g
Kettenblattschrauben / Chainring Bolts: Alu 8,2 g
Kassette / Sprockets: Alu modified, 6sp 11-16 34,7 g
Kassettenspacer / Cassette Spacer: Teflon 3,8 g
Abschlussring / Cassette lockring: Alu modified 3,4 g
Kette / Chain: KMC X-10 SL 214,8 g
Pedale / Pedals: Aerolite Titan modified 54,8 g
Sattelklemmschelle / Seatpost Collar: BTP Carbon 2,9 g
Züge & Hüllen / Cables & housing: Powercordz & pneumatic hose 15,6 g
Tretlagerkabelführung / BB Cable Guide: Record 2,2 g
Verschiedenes / Miscellaneous: Tire glue, air, grease 16,0 g

Read the rest of this entry »

Bersepeda Bagai Bertahan Hidup

BICYCLE CLOWN BRIGADE "TICKETS" POLICE CAR(S) ILLEGALLY PARKED IN THE 2nd AVENUE BIKE LANE (ppolnews.com)

127 Hours, Cast Away, Resident Evil: After life, The Road merupakan jajaran film ber-genre survival yang menarik ditonton. Entah itu based on true strory atau fiksi. Film-film itu seakan mengajarkan pada kita bagaimana cara bertahan hidup ketika terdesak suatu kondisi. Ya, seperti halnya ketika kita bersepeda sehari-hari. Kita harus bertahan hidup dari ‘pemangsa’ jalanan. Mungkin agak lebay jika saya sebut pemangsa, tapi memang mirip. Di jalanan seolah kita membuat sebuah rantai makanan yaitu: pejalan kaki dan pesepeda dimangsa pengendara motor, pengendara motor dimangsa pengendara mobil, pengendara mobil dimangsa kendaraan yang lebih besar (misal; bus). Aksi saling srobot, saling pepet seolah manuver wajib disetiap harinya.

Sedikit cerita keseharian saya bersepeda;

Pagi hari mulai berangkat kerja ketika sampai di gapura komplek, sudah agak susah untuk keluar karena kendaraan bermotor melaju kencang padahal bukan jalan besar lho. Ketika masuk ke jalan utama, mode survival pun diaktifkan Smile. Dipepet bus kota atau taxi yang berlomba mendapatkan penumpang tanpa melihat kondisi sekitar. cari makan ya cari makan tapi gak usah nyikut orang yang berangkat cari makan juga bung!.
Sedang asik di lajur sepeda, ada mobil parkir disitu alhasil harus menghindar ke kanan, kalau yang dari belakang sigap sih aman saja tapi jika sedang lengah, srempetan tak terhindarkan. Agar tetap selamat, saya harus sangat lambat atau berhenti untuk memastikan aman untuk menghindar ke kanan.
Maksud hati tertib lalu lintas di lampu merah tepat di atas ruang tunggu sepeda, tapi ketika lampu berganti hijau bahkan belum, beberapa kendaraan ‘asik’ membunyikan klakson. Akselerasi sepeda tergantung kekuatan pengendaranya jadi wajar jika agak lambat. Lalu, apa gunanya ruang tunggu sepeda yang ada di setiap baris depan lampu pengatur lalu lintas?
Obstacle terakhir adalah menyeberang atau pindah lajur. Karena sepeda termasuk kendaraan lambat, jadi harus berjalan di sisi kiri padahal saya akan belok ke kanan jadi harus perlahan-lahan pindah lajur sisi kanan kemudian berbelok. terilahat mudah memang, tapi tidak. Kendaraan bermotor melesat kencang setelah lampu hijau menyala, ironisnya disitu ada zebra cross dan kawasan perbelanjaan, sekan tak kenal ampun untuk terus melaju menjadi yang terdepan. Maka, harus menunggu ada jeda atau belas kasihan dari motorist yang memberi kesempatan untuk menyeberang. Mungkin perlu dibuat zebra cross untuk pesepeda?
Akhirnya sampai kantor, tapi penderitaan belum berakhir. Parkir sepeda yang semula sudah baik malah ditata sangat berdempetan tak ada ruang bahkan saling disenderkan satu sama lain. Ya.. alih-alih hemat tempat untuk parkir motor. Hadeh… Annoyed
Sebenarnya tidak di kantor saja melainkan ketika berbelanja di toko atau pusat perbelanjaan lain, biasanya hal serupa terjadi. Apa mungkin tidak dikenakan biaya parkir? seandainya dipungut disamakan sepeda motor, saya juga rela kok. Asal perlakuannya sama baiknya.

Maka dari itu, kita harus pandai-pandai mencari celah untuk selamat sampai di tujuan karena rambu lalu-lintas adalah ornamen kota, sedangkan marka jalan adalah karya seni mural.

Jadi takut bersepeda? tidak, asal kita berhati-hati maka akan selamat. Semua sudah diatur yang di Atas.
Selamat bersepeda kawan Peace

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 167 other followers